Sabtu, 16 Mei 2020

Pemulihan


Oleh: Soedarso

 

        Ada kalanya sangat ditunggu-tunggu, kadang pula  diabaikan, atau kadang ditakuti; tapi semua tidak bisa menghindarinya; semua memerlukannya.

       Setiap hal memerlukan istirahat; tanpa istirahat bisa membahayakan kehidupan. Aktivitas yang terus menerus tanpa henti, memerlukan waktu dan kondisi untuk beristirahat dengan baik, agar aktivitas tersebut dapat terus berlanjut dalam jangka waktu yang lebih panjang. Manajemen istirahat yang keliru, pengatruran yang tidak tepat, tidak mencukupi dari segi kualitas dan kuantitas dapat menyebabkan kekacauan pada sistem hidup dalam bentuk sakit atau kerusakan.

          Istirahat diperlukan tidak hanya  oleh mahluk hidup (organik), tetapi juga pada benda ‘hidup’ seperti mesin buatan manusia  (mekanik). Baik mahluk hidup organik maupun benda hidup mekanik memerlukan istirahat yang memadai, agar tidak menyebabkan sakit atau kerusakan baik sebagian atau pun total. Manusia yang beraktivitas terus menerus tanpa istirahat, tentu tidak akan kuat dan tak bisa bertahan jangka waktu yang lama.

       Istirahat sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup. Setiap yang hidup memerlukan istirahat; oleh karena itu istirahat merupakan hal mendasar, terlebih untuk setiap manusia. Sebagai sebuah bagian tak terpisahkan dari hidup, sebagai suatu keharusan hidup; akan tetapi jarang yang memperhatikan secara sungguh-sungguh akan arti pentingnya istirahat. Sejauhmana kualitas dan kuantitas istirahat kita?

        Pernahkan secara serius menempatkan istirahat sebagai kunci kualitas hidup? Atau setidaknya, pernahkah kita mencurahkan perlunya memahami istirahat orang/mahluk/benda lain? Istirahat adalah hak setiap orang; oleh sebab itu kita wajib menghargai hak istirahat baik diri sendiri mau pun orang lain atau mahluk lain. Beberapa tahun silam saya ingat persis sebuah kejadian di Surabaya, di suatu surat kabar diberitakan bahwa seorang majikan ditusuk pisau hingga tewas oleh anak buahnya sendiri; penyebabnya anak buah tersinggung dan tidak terima saat istirahat ditegur oleh majikannya. Sepintas kejadian tersebut seolah-olah sepele, mengapa hanya karena istirahat kemudian sampai terjadi peristiwa tragis tersebut? Tapi sebetulnya itu juga bukan persoalan sepele, istirahat adalah hal dasar. Namun demikian, seharusnya peristiwa tragis tersebut tidak perlu terjadi, manakala kedua belah pihak baik majikan dan anak buah dapat berkomunikasi dengan baik, saling memberi pengertian satu sama lain.

      Di sini tidak membahas masalah komunikasinya, tapi hanya bermaksud mengambil sudut pandang tentang pentingnya istirahat, sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup. Setiap orang memiliki daya tahan tubuh yang berbeda-beda, setiap orang yang dewasa khususnya semakin memahami ritme tubuh dan hidupnya sehingga ia tahu persis kapan bisa terus berlanjut aktivitas dan kapan saatnya harus istirahat.

      Pada anak-anak banyak dijumpai sakit, bisa jadi  karena anak-anak belum memahami sepenuhnya akan kinerja dan ritme ketahanan tubuhnya sendiri, sehingga anak-anak tidak tahu kapan seharusnya beristirahat. Saya pribadi ingat persis pada masa anak-anak dan remaja; dari SD, SMP sampai SMA; setiap saat musim ujian akhir sekolah pasti saya sakit.  Hal itu jelas mungkin karena saya belajar terlalu keras di masa-masa ujian; meski saat itu saya merasakannya biasa saja, akan tetapi rupanya tubuh saya meresponnya tidak kuat; sehingga jatuh sakit di setiap masa akhir ujian sekolah. Saya saat itu perlu istirahat, tapi saya belum memahaminya, karena masih anak-anak.

      Tentu tidak hanya anak-anak, bahkan kadang manusia dewasa pun lupa atau kurang memahami kapan dan bagaimana seharusnya istirahat tersebut diperlukan. Istirahat merupakan hal mendasar dalam hidup. Hanya hidup yang memerlukan istirahat; dan hanya istirahat yang dilekatkan pada sesuatu yang hidup.


Ritme fisik dan psikis

      Secara sadar atau tidak sadar, kadang kita menganggap istirahat sebagai suatu keterpaksaan, bukan keharusan. Kita terpaksa istirahat karena kita merasa telah lelah; itu pun kalau situasi dan kondisinya memungkinkan. Ada saat-saat juga merasa perlu istirahat namun kondisi tidak memungkinkan, sebagai contoh saat berkendara di jalan tol yang tidak boleh berhenti istirahat kecuali di tempat yang sudah ditentukan ‘rest area’, maka tidak bisa istirahat semaunya sendiri; atau contoh lain pada saat berenang dalam sungai yang banjir, pastilah harus terus berenang sekuat tenaga untuk mencapai daratan.

    Ada banyak situasi dan kondisi yang seakan-akan menjadi mau tidak mau untuk tidak memprioritaskan istirahat.  Selalu ada saja saat sesuatu yang belum memungkinkan untuk istirahat padahal seharusnya istirahat. Di sisi lain, meskipun terkadang situasi dan kondisi  memungkinkan, tapi jika kita tengah menikmati suatu aktivitas, terkadang juga melalaikan istirahat. Jadi, istirahat kadang dianggap sebagai hal yang kurang nyaman atau boleh dikata mengganggu atau sering dalam posisi yang tidak tepat: saat dibutuhkan terkadang tidak ada waktu, atau saat ada waktu tetapi diabaikan karena asyik dengan aktivitas yang ada.

      Siapakah sebenarnya yang memerlukan istirahat, jiwa (psikis) atau raga (fisik)? Siapakah yang merasa lelah. Dalam pemahaman ilmiah modern tentu jiwa dan raga (atau jiwa-raga-roh) tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang terpisah; keduanya merupakan satu kesatuan: tanpa raga tidak ada jiwa, begitupun sebaliknya tanpa jiwa maka raga tidaklah hidup. Akan tetapi secara awan, yang kita rasakan sendiri terkadang ada kebutuhan yang berbeda antara keinginan jiwa kita dengan kondisi fisik kita. Sebagai contoh saat kita menderita suatu penyakit, maka sebagian merasa itu adalah sakitnya fisik (raga) kita, sedangkan jiwa kita kurang merasakan sakit tersebut bahkan cenderung menolak atau tidak menginginkan kehadiran sakit tersebut. Saat sakit ingat sehat, tapi saat sehat pasti lupa rasanya sakit.

     Ada juga suatu penyakit yang sangat langka yakni seseorang yang tidak bisa mengendalikan tidurnya. Pada penyakit ini, orang dalam kondisi apa pun bisa langsung tertidur secara tiba-tiba: baik saat sedang jalan, duduk atau sedang makan atau sedang apapun, tiba-tiba dalam sekejap langsung tertidur. Dalam kasus ini,  jelas kesadaran atau jiwa orang tersebut tidak menginginkan tidur yang tiba-tiba, akan tetapi ia tidak bisa menguasai tubuhnya, ia tidak mampu berbuat apa-apa manakala fisiknya langsung tertidur.

      Kita tidak hendak memaksakan teori tentang jiwa dan raga, tetapi sekedar mengangkatnya dalam konteks untuk memahami hakikat istirahat. Orang yang banyak berisirahat secara fisik (raga), tidak melakukan apa-apa, tidak mengeluarkan banyak tenaga, bermalas-malasan tidur dan sebagainya; tetapi bisa jadi secara psikis (jiwa) orang tersebut sangat lelah, karena psikisnya terus menerus bekerja memikirkan berbagai persoalan yang sangat sulit dipecahkannya. Dan atau sebaliknya, pada saat secara fisik bekerja keras, mengeluarkan banyak tenaga, misal pada saat membajak sawah, atau memasak di dapur, akan tetapi psikisnya sebenarnya tidak banyak bekerja, justru sangat senang menikmati aktivitas tersebut. Dalam kasus psikis yang bekerja terus menerus memikirkan sesuatu, harusnya dan sebaiknya diperlukan istirahat; begitupun sebaliknya, dalam hal fisik yang bekerja terus menerus ia pun harus istirahat karena jika tida akan kehabisan tenaganya atau menyebabkan sakit atau kerusakan.

      Berputarnya bumi pada porosnya sehingga muncul siang dan malam. Untuk jangka waktu yang lama dalam sejarah manusia, siang dianggap sebagai waktu beraktivitas, sedangkan malam dianggap sebagai waktu untuk istirahat. Akan tetapi sekarang,  bagi masyarakat modern pada umumnya, karena padatnya waktu dan aktivitas menyebabkan tidak terlalu terjadi pembagian waktu tersebut, banyak kota-kota besar beraktivitas secara penuh 24 jam. Tidak jarang orang justru beraktivitas di malam hari; bahkan kondisi malam bagi sebagian orang dianggap lebih nyaman untuk beraktivitas misalnya karena suhu udara lebih dingin, tidak terlalu ramai dan seterusnya.

     Tidur dianggap sebagai bentuk istirahat yang sempurna, karena seluruh organ inderawi fisik dan psikis kita beristirahat; mengurangi seluruh  aktivitasnya. Saat bangun tidur badan terasa lebih segar, pikiran, fisik dan psikis kita serasa pulih kembali untuk memulai suatu aktivitas yang baru. Demikian, terus berulang sepanjang hidup.

       Setiap orang, setiap yang hidup memerlukan istirahat. Hidup dipengaruhi oleh bagaimana istirahatnya. Istirahat idealnya sebuah kondisi nyaman secara fisik dan psikis, menurunkan level energi ke yang lebih rendah, untuk menyimpan dan menyiapkan energi selanjutnya. Istirahat sebagai pemulihan agar hidup bisa lebih berkesinambungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Bijaksana Hidup

Change is the law of life, and those who look only to the past or present are certain to miss the future  (JFK). It isn't expertise that...