Etika berkaitan dengan bagaimana menentukan sikap yang bijaksana ditengah pilihan-pilihan keputusan yang sulit dan rumit. Bagaimana agar pikiran, sikap dan tindak lanjut kita tidak melanggar hak-hak orang lain, sehingga kehidupan masyarakat dibangun atas dasar saling memahami, menghargai dan bekerjasama. Terciptanya tata kehidupan yang harmonis mengandaikan adanya kesadaran etik dan praktek etis dari orang-orang di dalamnya.
Permasalahan masyarakat modern saat ini sungguh sangat kompleks sebagai dampak perkembangan sains dan teknologi secara cepat dan masif di berbagai bidang kehidupan. Hal ini menyebabkan manusia memiliki keharusan moral untuk tanggungjawab akan dampak-dampaknya di masa kini dan masa depan.
Etika teknologi secara khusus belum banyak dibahas dalam wacana-wacana etika pada umumnya. Oleh karena tabiat teknologi di mana-mana penjuru dunia adalah sama yakni dapat mengubah cara pikir dan cara berperilaku manusia, maka etika teknologi sesungguhnya merupakan sesuatu yang sangat penting. Dapat dipandang bahwa setiap teknolog sekaligus adalah etikus, karena para teknolog menghasil karya-karya yang secara langsung atau tak langsung digunakan dalam kehidupan manusia.
Putusan-putusan dan hasil-hasil teknologi mempengaruhi kehidupan masyarakat secara luas. Oleh karena itu dalam penggunaan dan pengembangan suatu teknologi diperlukan kejujuran dan keterbukaan kepada semua pihak. Sejauhmana tanggungjawab masing-masing pihak: perusahaan, insinyur, pemerintah, masyarakat, lembaga profesi dan lain-lain; terhadap sebuah produk teknologi dan efek-efek negatifnya baik yang disengaja atau bersifat kecelakaan. Pepatah moral mengatakan “noblesse oblige”; siapa yang berpendidikan dan jabatan lebih tinggi dilekati tugas kewajiban dan tanggungjawab yang lebih berat (Mangunwijaya dalam Martin, dkk., 1994).
Setidaknya terdapat tiga kecenderungan orientasi etika yakni: orientasi etika keutamaan, etika kewajiban, dan etika tanggungjawab masa depan. Etika keutamaan menekankan nilai-nilai moral yang utama, yang akan membawa kebaikan pada seseorang maupun masyarakat bagi yang melaksanakannya. Orientasi ini dipengaruhi oleh pandangan para filsuf Yunani kuno yang menekankan hidup secara arif dan bijaksana.
Etika kewajiban menekankan nilai-nilai moral yang bersifat memaksa untuk dilakukan oleh setiap orang agar kehidupan berjalan sesuai harkat martabat kemanusiaan yang sebagaimana mestinya. Terdapat perintah-perintah moral dan larangan-larangan moral. Orientasi ini berasal dari ajaran moral keagamaan yang banyak muncul dan sangat kuat pada abad-abad pertengahan.
Etika tanggungjawab masa depan merupakan pendekatan dalam permasalahan etika teknologi. Menurut Hans Jonas etika tradisional tidak lagi memadai karena dinamika teknologi modern membawa tidak hanya akibat pokok tetapi juga akibat samping jangka panjang yang luas besar dan tak terprediksi. Seluruh umat manusia sekarang memiliki tanggungjawab terhadap keberlangsungan manusia dan alam semesta. Prinsip tanggungjawab ini baru terjamin apabila etika dapat meyakinkan jawaban atas pertanyaan: Apakah manusia layak bertanggungjawab atas masa depannya dan masa depan ekosistem bumi? (Magnis-Suseno, 2000).
Tanggungjawab merupakan sikap yang tidak timbal balik. Kita merasa perlu
bertanggungjawab bukan karena kita wajib balas budi, atau karena pihak tertentu
punya hak atas kita. Tak ada kewajiban, melainkan semata-mata berhadapan
dengan objek (biasanya yang lebih lemah dari kita) kita merasa
bertanggungjawab. Contoh ilustrasi: tanggungjawab orangtua terhadap anak: orangtua
tidak berhutang budi apapun terhadapnya, anak-anak tidak memberi apapun pada orangtuanya, anak-anak tidak terikat oleh “kewajiban” terhadap orangtuanya, tetapi adanya anak yang
membutuhkan bantuan membuat orangtua yang harus merasa bertanggungjawab. Demikian pula dengan
masa depan yang sedang dibangun melalui peradaban sains dan teknologi ini.
Harus disadarkan akan adanya petaka yang besar, jika mengembangkan sains dan teknologi secara tidak bertanggungjawab. Sains dan teknologi hadir untuk mempermudah manusia dan membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi manusia, tetapi sekaligus tidak pungkiri terkadang dapat membawa dampak permasalahan baru. Dalam siklus inilah justru menjadi tantangan dan tanggungjawab manusia seluruhnya dan para saintis dan teknolog khususnya untuk tidak boleh berhenti, untuk selalu mengembangkan kreasi, inovasi, rekayasa dan temuan-temuan yang bermanfaat untuk kehidupan manusia dan alam lingkungannya.
*****
*Sumber tulisan diambil dari buku: Soedarso & Heri Santoso, 2007, Filsafat Ilmu dan Etika, Penerbit Pustaka Rasmedia, Yogyakarta. Halaman: 95-107.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.