Oleh: Soedarso*
Setiap orang pada hakikatnya merupakan subjek, sedangkan pengetahuan adalah objek yang hadir kepadanya. Sebagai subjek, setiap orang dapat bertindak: a) menerima atau sebaliknya menolak suatu pengetahuan; b) menemukan atau sebaliknya tidak dapat menemukan suatu pengetahuan yang dicoba dicarinya.
Subjek menangkap objek-objek yang hadir
padanya sebagai pengetahuan, tetapi dapatkah subjek menangkap 100% objek? Terdapat beberapa kemungkinan dalam hal ini, bisa
saja pengetahuan subjek hanya beberapa persen saja dari objek yang dimaksud,
atau bisa jadi malah salah sepenuhnya. Dalam apa yang kita nyatakan sebagai
pengetahuan, di dalamnya ternyata tidak secara otomatis mengandung jaminan tentang kebenaran yang
dikandungnya.Tidak
setiap apa yang disebut “pengetahuan”
pastilah sesuatu yang benar.
Dalam pengetahuan belum terkandung makna apakah itu benar atau salah. Setiap pengetahuan mengandung kemungkinan benar dan salah, hal ini terkait: a) pemahaman orang yang bersangkutan; b) sumber pengetahuan tempat pengetahuan tersebut didapat.
Untuk dapat mengetahui
apakah pengetahuan kita benar atau salah, atau sebagian benar dan sebagian
salah, harus dilakukan uji terhadap pengetahuan. Masalahannya bagaimana menguji
pengetahuan? Dapatkah kita lakukan?
Sejauhmana kualitas dari pengetahuan-pengetahuan kita? Terdapat beberapa kemungkinan: pertama, pengetahuan kita mungkin benar, kedua, pengetahuan kita mungkin salah, atau ketiga, pengetahuan kita mungkin sebagian benar dan sebagian salah dengan proporsi tertentu, misalnya benar sepertiga dan salah duapertiga, dan seterusnya.
***
Setiap orang sadar atau
tidak, sebenarnya telah dan pernah melakukan pengujian terhadap pengetahuan-pengetahuannya,
tetapi tentu saja dengan cara dan kemampuannya masing-masing. Setiap orang
berupaya membuat alat uji sesuai dengan pemahamannya. Padahal, alat uji yang tidak layak atau cara pengujian yang
tidak tepat, tentu tidak dapat dijadikan tolok ukur.
Sebagai contoh: jika seorang ingin membeli satu kilogram buah jeruk maka ia memilih beberapa buah jeruk yang ia taksir bobotnya 1 kilogram. Pedagang lalu menguji bahwa bobot buah jeruk yang dipilih tersebut memang 1 kilogram, tidak lebih atau kurang, dengan cara menimbangnya memakai timbangan. Bagaimana kalau alat penimbang yang berfungsi sebagai alat penguji bobot tersebut tidak layak? Dapatkah kita tahu bahwa jeruk yang dipilih dan akan dibeli oleh pembeli itu memang 1 kilogram? Jika alat timbang tersebut tidak layak, maka kita tidak dapat mengujinya.
Bagaimanakah halnya dengan pengujian terhadap pengetahuan-pengetahuan kita? Bagaimana seandainya setiap orang yang membuat alat uji bagi pengetahuannya masing-masing tersebut ternyata tidak layak? Sudah barang tentu yang akan didapati adalah bahwa setiap orang merasa pengetahuan yang dimilikinya dianggap paling benar, meskipun sekali lagi, alat ujinya yang dimilikinya tidak layak. Jika keadaannya seperti ini, maka yang akan selalu terjadi adalah klaim-klaim kebenaran, masing-masing orang merasa tahu akan sesuatu, padahal belum tentu. Hal inilah barangkali yang banyak terjadi dalam realita masyarakat. Masyarakat yang dengan segala variasinya: terjenjang dalam tingkat kecerdasan, ragam budaya, ragam profesi, bermacam disiplin ilmu, dan sebagainya sesuai keadaannya masing-masing: selalu merasa telah memiliki pengetahuan.
* Sumber: Soedarso & Heri Santoso, 2007, Filsafat Ilmu dan Etika, Penerbit Pustaka Rasmedia, Yogyakarta. Halaman: 3-5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.