Jumat, 10 April 2020

Epistemology: Kebenaran Pengetahuan

           

    Oleh: Soedarso*

      Setiap orang pada hakikatnya merupakan subjek, sedangkan pengetahuan adalah objek yang hadir kepadanya. Sebagai subjek, setiap orang dapat bertindak: a) menerima atau sebaliknya menolak suatu pengetahuan; b) menemukan atau sebaliknya tidak dapat menemukan suatu pengetahuan  yang dicoba dicarinya.

     Subjek menangkap objek-objek yang hadir padanya sebagai pengetahuan, tetapi dapatkah subjek menangkap 100%  objek? Terdapat beberapa kemungkinan dalam hal ini, bisa saja pengetahuan subjek hanya beberapa persen saja dari objek yang dimaksud, atau bisa jadi malah salah sepenuhnya. Dalam apa yang kita nyatakan sebagai pengetahuan, di dalamnya ternyata tidak secara otomatis mengandung jaminan tentang kebenaran yang dikandungnya.Tidak setiap apa yang disebut “pengetahuan”  pastilah sesuatu yang benar.

      Dalam pengetahuan belum terkandung makna apakah itu  benar atau salah. Setiap pengetahuan mengandung kemungkinan benar dan salah, hal ini terkait: a) pemahaman orang yang bersangkutan; b) sumber pengetahuan tempat pengetahuan tersebut didapat.

Untuk dapat mengetahui apakah pengetahuan kita benar atau salah, atau sebagian benar dan sebagian salah, harus dilakukan uji terhadap pengetahuan. Masalahannya bagaimana menguji pengetahuan? Dapatkah kita lakukan?

Sejauhmana kualitas dari pengetahuan-pengetahuan kita? Terdapat beberapa kemungkinan: pertama, pengetahuan kita mungkin benar, kedua, pengetahuan kita mungkin salah, atau ketiga, pengetahuan kita mungkin sebagian benar dan sebagian salah dengan proporsi tertentu, misalnya benar sepertiga dan salah duapertiga, dan seterusnya.


***

   Setiap orang sadar atau tidak, sebenarnya telah dan pernah melakukan pengujian terhadap pengetahuan-pengetahuannya, tetapi tentu saja dengan cara dan kemampuannya masing-masing. Setiap orang berupaya membuat alat uji sesuai dengan pemahamannya. Padahal, alat uji  yang tidak layak atau cara pengujian yang tidak tepat, tentu tidak dapat dijadikan tolok ukur. 

   Sebagai contoh: jika seorang ingin membeli satu kilogram buah jeruk maka ia memilih beberapa buah jeruk yang ia taksir bobotnya 1 kilogram. Pedagang lalu menguji bahwa bobot buah jeruk yang dipilih tersebut memang 1 kilogram, tidak lebih atau kurang, dengan cara menimbangnya memakai timbangan. Bagaimana kalau alat penimbang yang berfungsi sebagai  alat penguji bobot tersebut tidak layak? Dapatkah kita tahu bahwa jeruk yang dipilih dan akan dibeli oleh pembeli itu memang 1 kilogram? Jika alat timbang tersebut tidak layak, maka  kita tidak dapat mengujinya.

         Bagaimanakah halnya dengan pengujian terhadap pengetahuan-pengetahuan kita? Bagaimana seandainya setiap orang yang membuat alat uji bagi pengetahuannya masing-masing tersebut ternyata tidak layak? Sudah barang tentu yang akan didapati adalah bahwa setiap orang merasa pengetahuan yang dimilikinya dianggap paling benar, meskipun sekali lagi, alat ujinya  yang dimilikinya tidak layak. Jika keadaannya seperti ini, maka yang akan selalu terjadi adalah klaim-klaim kebenaran, masing-masing orang merasa tahu akan sesuatu,  padahal belum tentu. Hal inilah barangkali yang banyak terjadi dalam realita masyarakat. Masyarakat yang dengan segala variasinya: terjenjang dalam tingkat kecerdasan, ragam budaya, ragam profesi, bermacam disiplin ilmu, dan sebagainya sesuai keadaannya masing-masing: selalu merasa telah memiliki  pengetahuan.

* Sumber: Soedarso & Heri Santoso, 2007, Filsafat Ilmu dan Etika, Penerbit Pustaka Rasmedia, Yogyakarta. Halaman: 3-5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Bijaksana Hidup

Change is the law of life, and those who look only to the past or present are certain to miss the future  (JFK). It isn't expertise that...